Sabtu, 16 Juli 2016

Terpandang Sebelah Mata

Lampu-lampu jalanan perlahan memadam, jalanan yang gelap nan sepi perlahan benderang dan kandaraan berlalu lalang. Udara yang tadinya dingin mulai menghangat. Langit yang tadi nya gelap kini menjadi terang.
Diseberang jalan  sana ku melihat jalanan kota yang belum begitu ramai. Tampak berbeda, jalanan cukup lengang, muungkin karna ini masih terbilang pagi. Aku berjalan menuju tempat untuk menunggu kedatangan bus (ngomong aja halte). Sambil ku menunggu bus, aku menghentak-hentakkan kaki ku melantunkan senandung kecil untuk mengawali perjalanan panjangku.
Ku lihat sekarang bus melaju dengan kecepatan standar menuju halte, namun jangan sangka aku akan naik  bus itu, aku hanya terkesan melihat pemandangan saat seseorang keluar dari bus. Begitu menyesakkan.
Orang itu, menjadikan tongkat lipat sebagai sahabatnya, berjalan dengan dipandu tongkat lipatnya, sangat berhati-hati saat ia berjalan. Hatiku trenyuh akan pemandangan ini.
Orang itu ingin menyeberang jalan, namun untuk beberapa saat belum ada orang yang mau menyeberangkannya, tiap ia mendakati orang yang berada di dekatnya malah menjauh dari nya, mungkin mereka takut. Lalu, kenapa tidak kau saja yang menolong? Aku? Sebenarnya aku ingin sekali menolongnya tapi aku takut jika aku dianggap sok baik intinya begitu, karena di halte itu ramai sekali orang-orang.
Beberapa saat setelah itu, seorang wanota menghampirinya, lebih tepatnya gadis sma yang baik hati itu mau menyeberangkannya. Hatiku menjadi lega walaupun aku tak dapat menolongnya tapi aku tetap senang. Mungkin kalian bertanya-tanya atau mungkin kalian sudah menebak apa yang terjadi pada orang itu, memakai tongkat lipat, orang itu tal dapat melihat seperti kebanyakan orang, ia tunanetra, beberapa kali aku bertemu dengan nya saat pergi ke pasar. Aku lihat ia hanya mengemis.

Disini aku belajar untuk bersyukur sepanjang waktu. Orang itu selalu membuatku agar selalu bersyukur.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar