Lampu-lampu jalanan perlahan memadam, jalanan yang gelap nan sepi
perlahan benderang dan kandaraan berlalu lalang. Udara yang tadinya dingin
mulai menghangat. Langit yang tadi nya gelap kini menjadi terang.
Diseberang jalan sana ku
melihat jalanan kota yang belum begitu ramai. Tampak berbeda, jalanan cukup
lengang, muungkin karna ini masih terbilang pagi. Aku berjalan menuju tempat
untuk menunggu kedatangan bus (ngomong aja halte). Sambil ku menunggu bus, aku
menghentak-hentakkan kaki ku melantunkan senandung kecil untuk mengawali
perjalanan panjangku.
Ku lihat sekarang bus melaju dengan kecepatan standar menuju halte,
namun jangan sangka aku akan naik bus
itu, aku hanya terkesan melihat pemandangan saat seseorang keluar dari bus.
Begitu menyesakkan.
Orang itu, menjadikan tongkat lipat sebagai sahabatnya, berjalan
dengan dipandu tongkat lipatnya, sangat berhati-hati saat ia berjalan. Hatiku
trenyuh akan pemandangan ini.
Orang itu ingin menyeberang jalan, namun untuk beberapa saat belum
ada orang yang mau menyeberangkannya, tiap ia mendakati orang yang berada di
dekatnya malah menjauh dari nya, mungkin mereka takut. Lalu, kenapa tidak kau
saja yang menolong? Aku? Sebenarnya aku ingin sekali menolongnya tapi aku takut
jika aku dianggap sok baik intinya begitu, karena di halte itu ramai sekali
orang-orang.
Beberapa saat setelah itu, seorang wanota menghampirinya, lebih
tepatnya gadis sma yang baik hati itu mau menyeberangkannya. Hatiku menjadi
lega walaupun aku tak dapat menolongnya tapi aku tetap senang. Mungkin kalian
bertanya-tanya atau mungkin kalian sudah menebak apa yang terjadi pada orang
itu, memakai tongkat lipat, orang itu tal dapat melihat seperti kebanyakan
orang, ia tunanetra, beberapa kali aku bertemu dengan nya saat pergi ke pasar.
Aku lihat ia hanya mengemis.
Disini aku belajar untuk bersyukur sepanjang waktu. Orang itu selalu
membuatku agar selalu bersyukur.









